Sebagai bagian dari rangkaian Pelatihan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di Kecamatan Margasari, peserta mendapatkan pembekalan penting mengenai pembuatan Peta Risiko Bencana atau Peta BKRK (Bahaya, Kerentanan, Risiko, dan Kapasitas). Materi ini difasilitasi oleh Sunarto, S.Kom, yang juga merupakan praktisi kebencanaan dari PMI Kabupaten Tegal.
Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan sejak 3 hingga 6 November 2025 di Balai Desa Prupuk Utara ini diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari empat desa rawan bencana, yaitu Desa Prupuk Utara, Kaligayam, Dukuh Tengah, dan Pakulaut. Para peserta berasal dari unsur perangkat desa, lembaga kemasyarakatan, tokoh masyarakat, pemuda, serta relawan PMI Kecamatan Margasari.
Dalam paparannya, Sunarto, S.Kom menjelaskan bahwa Peta Risiko Bencana atau Peta BKRK merupakan alat penting bagi masyarakat untuk mengenali kondisi wilayahnya secara lebih detail.
“Melalui peta BKRK, masyarakat dapat mengetahui tingkat bahaya, kerentanan, dan kapasitas yang dimiliki wilayahnya. Dengan begitu, mereka dapat menyusun langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan yang tepat,” jelasnya.
Peserta dilatih secara partisipatif untuk melakukan pemetaan wilayah rawan bencana dengan menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Vulnerability and Capacity Assessment (VCA). Kegiatan ini meliputi pengumpulan data lapangan, observasi langsung (transect walk), hingga analisis hasil pemetaan untuk menentukan lokasi bahaya, daerah rentan, serta sumber daya yang tersedia di masyarakat.

Selain mengenal teori dasar peta dan pemetaan, peserta juga belajar tentang komponen penting dalam peta, seperti skala, legenda, arah mata angin, serta simbol-simbol geospasial yang menggambarkan kondisi nyata di desa. Mereka kemudian mempraktikkan cara membuat peta risiko sederhana dengan menggunakan media kertas dan plastik overlay, hingga menyusun peta BKRK desa masing-masing.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya PMI Kabupaten Tegal dalam membentuk masyarakat yang tangguh bencana dan mampu mengelola risiko secara mandiri. Dengan peta risiko yang telah dibuat, kelompok relawan SIBAT di setiap desa diharapkan mampu merencanakan langkah mitigasi, menyiapkan jalur evakuasi, dan memperkuat sistem peringatan dini bencana di tingkat lokal.





